#

12 Oktober 2009

Twins Love

Twins Love
A

wal musim panas yang cerah dengan langit biru dan sinar mentari yang terang. Hari ini merupakan hari pertama seorang gadis yang baru saja tumbuh dewasa yang akan manjalani hari-hari di sekolah barunya.
Tok...tok...tok...!! ”SHERIIIIIN....!!! Ayo cepat bangun, sudah telat nih..!!” Tara, kakak kandung Sherin memanggilnya dengan jurus suara petirnya itu setiap membangunkan Sherin. Seperti biasanya Sherin selalu telat bangun tidur.
“Aduuuh…bising tau…!! Bisa nggak sih pakai suara yang lembut…padahal seorang cewek...?!” Sherin bicara kesal.
”Ayo cepat mandi sana...!!!”
”Ahhh...!! Iya-iya…” Sherin dengan cepat Turun dari springbednya.
Akhirnya Sherin tiba juga di ruang makan.
”Wuah...?! Sudah siap saja nih sarapan...!”
”Makanya kalau tidur jangan keasyikan sama mimpi dong...?!
”Yeee...enak aja!!! Sherin membantah.
“Sudah-sudah…pagi-pagi kok sudah ribut…” Mama mencegah kedua anaknya yang sedang bertengkar. Beginilah biasanya suasana keluarga mereka.

* * * *

“Wah ternyata aku tidak telat…”
Rambutnya yang panjang lurus terurai dengan jepit pink mengenakan baju seragam musim panas dengan rok mini. Walaupun Sherin jadi perhatian teman-teman yang belum dikenalnya, tetapi ia tetap saja melangkah dengan percaya diri untuk mencari ruang kelasnya.
Saat itu Sherin sedang asyik berjalan, lalu tiba-tiba…………………… Duk!!! ” Aduh...!!” Sherin sangat kaget dengan kejadian itu. Ada seseorang yang tidak sengaja menabraknya. Seorang cowok yang tinggi badannya kira-kira lebih tinggi 20 cm dari Sherin. Wajahnya cukup tampan dan disenangi oleh teman-temannya, terutama anak cewek. Jorgi biarpun ia agak sedikit cuek, tapi dia juga senang berteman.
”Sorry ya...aku tidak sengaja menabrakmu tadi”.
”Eeeeeem...ti-tidak apa-apa...” Sherin berkata gugup dan agak kaku sambil membersihkan roknya yang sedikit kotor.
Cowok itu memandang Sherin sejenak.
“Mmmm…kamu baru masuk sekolah sini ya..? rasanya aku baru kali ini melihatmu”.
“Eh...i-iya, ini hari pertamaku masuk sekolah di sini. Kenalkan aku Sherin”. Sherin membungkukkan badan sebagai salam perkenalan.
”Aku Jorgi, panggil saja aku Jo.”
Ternyata dari tadi Sherin kebanyakan menundukkan kepala. Dia malu karena sebelumnya dia tidak pernah bertemu cowok setampan Jorgi, apalagi sekarang mereka sudah saling kenal.
”Boleh aku antar ke kelas...?”
”Bo-boleh...” Sherin lagi-lagi gugup.

* * * *

Teng...teng...teng...bel tanda pulang sekolah berbunyi. Saat itu Sherin dan Jorgi pulang sama-sama.biarpun mereka baru kenal, tetapi sudah keliatan akrab sekali. Sherin memang senang berteman, walaupun ia tadi agak malu.
”Besok saudaraku juga akan masuk sekolah sini, namanya Jorga. Jorgi menjelaskan kepada Sherin.
”Namanya hampir mirip dengan namamu ya...? Pasti wajahnya juga mirip sekali, iya kan??” Sherin berbica sudah lancar dengan khas gayanya yang selalu ceria itu.
Jorgi tersenyum setelah mendengar perkataan Sherin.
”Kok malah senyum sih...Ada apa??” Sherin heran.
”Kau tau...? Jorga itu saudara kembarku, dia baru saja pindah ke sini...”
”O ya....???!! Kembar?? Kalian Kembar...???!!”
”Djorga sudah lama tinggal di New York, dan sekarang dia ingin sekolah di sini, bersamaku”. Jorgi menjelaskan dengan gaya sok coolnya itu.
”Oh ya!!...sudah tidak lagi gugup ya?? Ha...ha...ha...” Jorgi mengejek Sherin.
”A-apa kau bilang???” Wajah Sherin memerah.
“Tuh kan gugup lagi…??!” Jorgi mengejek lagi.
Sherin hanya menundukkan kepalanya dengan wajah yang memerah.

* * * *

Ini hari kedua Sherin Memasuki sekolah barunya, dan seperti biasa............
”SHERIIIIIIIN...!!! Ayo bangun...!!” Kak Tara lagi-lagi mengeluarkan jurus suara petirnya.
”Uuaaaaah......hey bising tau...!!!” Sherin langsung bersiap-siap dengan buru-buru. Setelah siap ia menuju ruang makan, lalu go to school.

“Huh….! Akhirnya aku sampai juga..” Biarpun Sherin sering telat bangun tidur, tapi ternyata ia belum pernah terlambat datang ke sekolah. Itu karena jarak rumahnya tidak terlalu jauh dari sekolah.
”Pagi semuaaa...?!” Bu Evi guru geografi yang selalu berpenampilan feminim itu menyapa.
”PAAAAGIIIIIIII.....” Semua serempak.
Bu Evi masuk ke kelas bersama seseorang yang wajahnya mirip sekali dengan Jorgi. Cowok tampan yang satu ini keliatan lebih dewasa jika dibandingkan dengan Jorgi.
”Hah...??!! Dia pasti saudara kembarnya Jo...Iya, dia ituuuuuu....Jorga...!!!” Sherin berkata dalam hati sambil memandang wajah cowok mirip Jorgi itu. Teman-teman sekelas hampir semua terperangah melihatnya.

”Aku pulang...?!!” Sepulang sekolah Sherin ingin belajar bersama di rumah Jorgi dan ia langsung mengganti pakaiannya.
”Mau ke mana kamu...baru pulang mau pergi lagi..!” Kak Tara bingung melihat penampilan adiknya yang sedikit lebih feminim dari biasanya.
”Rahasia dong...Aku pergi...?!!!” Sherin melambaikan tangannya.
”Iiih...dasar aneh..!!” Kak Tara bingung.
Sebenarnya rumah Jorgi tidak begitu jauh dari rumah Sherin. Hanya jalan kaki saja sudah sampai. Sesampai di depan rumah Jorgi, Sherin bertemu sesosok laki-laki yang pasti dikiranya Jorgi. Sherin mendekat dan....”Jo...?!”
Seseorang yang dikiranya Jorgi itu menoleh ke arahnya. Sherin kaget dan merasa sangat malu, karena sosok lelaki itu mengenakan kacamata berlis silver yang berkaca bening. Setaunya Jorgi tidak mengenakan kacamata begitu dan pakaian yang dikenakannya juga sangat berbeda dengan Jorgi, hanya wajahnya yang mirip dan tentu saja itu bukan Jorgi.
”Sherin ya...?”
”Ka-kamu........” Sherin bingung.
”Tadi Jo bilang, katanya dia tidak bisa memenuhi janji sekarang”.
”Kenapa?”
”Jo mendadak diberitahu temannya bahwa sekarang dia harus latihan basket untuk persiapan pertandingan antar sekolah minggu depan.”
Sherin mengganggukkan kepalanya.
”Jorga memang kelihatan lebih sopan dan lebih dewasa jika dibandingkan dengan Jo”.
”Halllooo.....?!”
”Hah....???” Sherin tersentak dari lamunannya.
”Ada apa..?” Jorga heran dan sambil mengerutkan keningnya.
”Mmmmm...Ti-tidak ada apa-apa kok.”
Sherin selalu saja gugup ketika baru kenal dengan seseorang. Tapi, lama-kelamaan pasti mereka selalu menjadi teman akrab jika berteman dengannya.

* * * *

”Duk...Duk...Duk...” Seseorang sedang nge-drible dengan gayanya yang khas dan tentunya dapat menaklukkan semua hati anak-anak cewek.
”Jooooo.....?!” Siapa lagi kalau bukan cowok tampan yang selalu dipuja itu, khususnya untuk anak-anak cewek.
”Waaaah...keren?!” Lagi-lagi suara seperti itu terdengar kembali. Saat itu Jorgi sedang asyik menikmati pertandingan. Sherin dan Jorga juga asyik menyaksikan pertandingan. Sebenarnya Jorga juga tidak kalah populernya dengan Jorgi, sehingga banyak anak-anak cewek yang iri dengan Sherin.
”Eh lihat?! Jo akan segera mencetak angka....”
”Ayo Joooo....!!!” Sherin tentunya juga tidak mau kalah dengan teman-temannya.
Saat itu hanya satu kali lompat saja, Jorgi akan mencetak angka, tapi tiba-tiba...............
Ciiiiiiiiiiiiiiiiiiit.....Duk...!!
”Jorgiiiiii.....??!!” Hal yang tidak mungkin terjadi telah terjadi, Jorgi terjatuh.
” Aduuuuh..!” Jorgi mengalami cidera pada tangan kanannya yang cukup serius.

* * * *

”Jo, Bagaimana keadaanmu sekarang?” Jorga bertanya selayaknya seorang kakak yang baik dan sopan, tapi Jorgi memberikan respon yang kurang baik terhadap Jorga.
”Kau bisa lihat sendiri kan..??”
”Jo...??” Sherin bingung dengan situasi seperti ini.
”Aku tidak mengharapkanmu ke sini..!” Jorgi berbicara terhadap Jorga dengan sedikit kasar, tapi Jorga hanya menanggapinya dengan tenang dan kelihatan sama sekali tidak merasa kesal. Itu luar biasa..!!
”Baiklah kalau itu maumu, cepat sembuh.” Jorga segera meninggalkan UKS sekolah. Sherin tidak ikut ke luar dan hanya berdiri dengan wajah yang kesal.
”Jo..!! Kenapa kamu berbicara seperti itu terhadap Jorga, apa yang salah dengannya??” Jorgi terdiam sejenak.
”Memang sepantasnya aku bicara seperti itu!”
”Ke-kenapa??”
”Menurutku itu tidak penting!” Jorgi bicara dengan sedikit cuek.
”Jo...ka-kamu......
”Tinggalkan aku sendiri!!” Jorgi memotong pembicaraan Sherin. Sherin sangat shock mendengar perkataan Jorgi dan segera berlari meninggalkan Jorgi dengan kesal bercampur sedih, padahal sebelumnya Jorgi tidak sekasar itu dengannya. Sherin berfikir Jorgi berkata kasar terhadapnya mungkin dia merasa kecewa karena tidak bisa ikut menyelesaikan pertandingannya, apalagi untuk saat ini Jorgi tidak bisa bermain basket lagi karena cidera pada tangan kanannya yang cukup serius.

* * * *

Hari berikutnya Sherin dan Jorga pergi ke sekolah bersama dan menjalani hari-hari di sekolah bersama, mereka memasuki awal musim dingin dengan ceria. Setelah kejadian waktu itu, Sherin dan Jorga saat ini begitu akrab sehingga menimbulkan salah sangka bagi teman-temannya di sekolah. Tapi itu tidak menjadi masalah bagi keduanya, Sherin fikir dia dan Jorga hanya teman biasa tapi sebenarnya tidak bagi Jorga. Jorga menganggap Sherin adalah seseorang yang special untuknya, tapi sayangnya untuk sekarang ini dia tidak berani mengungkapkan isi hatinya. Jorga menunnggu waktu yang tepat.
Sebenarnya Jorgi tidak begitu suka dengan Jorga, itu karena Jorga selalu saja dianggap lebih baik darinya. Jorgi merasa terlalu direndahkan jika dibandingkan dengan Jorga semenjak dia tiba dari New York.
Sepulang sekolah nanti, Jorgi ingin menemui Jorga. Ada hal yang sangat penting untuk mereka bicarakan, termasuk Sherin. Sherin juga harus hadir dalam pertemuan mereka, kerena masalah itu menyangkut perasaan Jorgi dan Jorga terhadap Sherin.

* * * *

Teng...teng...teng...Bel tanda pulang sekolah berbunyi. Saat itu, Sherin sedang berjalan di koridor sekolah.
”Sherin, ayo ikut aku...?!” Tangan kiri Jorgi tiba-tiba menarik tangan Sherin.
”Jo..???” Sherin kaget dan bingung, dia hanya mengikuti langkah Jorgi.
Sesampai di suatu tempat, yakni halaman luas belakang sekolah, Sherin juga melihat Jorga di sana. Sherin jadi bertambah bingung.
”A-ada apa ini..??”
”Ke-kenapa ka-kalian berdua ada di sini??” Sherin berkata gugup dan kelihatan sangat bingung.
Jorgi dan Jorga kemudian mendekat. Sherin berada di tengah-tengah Jorgi dan Jorga. Saat itu salju turun, seakan-akan ikut menghadiri mereka bertiga.
”Aku ingin bicara sesuatu denganmu..” Tiba-tiba Jorgi berbicara seperti itu kepada Sherin.
“Semenjak pertama kali kita bertemu………........” Jorgi tidak melanjutkan pembicaraannya.
”Kenapa..??” Sherin penasaran.
Jorgi terdiam sejenak dan kemudian dia mengatakan ” Aku menyukaimu...”
Sherin sangat kaget dan tidak bisa berkata apa-apa.
”Begitu juga denganku...” Jorga tiba-tiba juga mengatakan hal yang sama.
”A-apa..?? Ka-kalian berdua.................
”Iya Aku menyukaimu..” Jorgi dan Jorga serempak.
Sherin hanya bisa terdiam dan terpaku dengan keadaan ini.
”Kami menginginkan jawabanmu sekarang...” Jorga berkata denga sopan.
Sherin memandang mata dua orang cowok kembar yang menyukainya itu. Kedua mata mereka juga memandang Sherin dengan penuh harapan. Saat itu, salju tidak berhenti turun seakan-akan tidak mau ketinggalan cerita mereka.
”Tuhan...aku menyukai mereka berdua....”
”Sherin..??!” Jorgi memanggilnya dan sedikit heran.
”Eehh...!! i-iya...?” Sherin berhenti dari lamunannya.
“Sherin, jawabanmu……?” Jorga menginginkan jawaban Sherin dengan tutur katanya yang lembut.
“Aku menginginkan kalian berdua…” Sherin mengeluarkan kata-kata itu tanpa ragu dan menundukkan kepalanya.
”APAA...???” Jorgi dan Jorga kembali serempak dan sangat kaget dengan kata-kata yang keluar dari mulut Sherin.
”Iya....Aku menginginkan kalian berdua.....untuk jadi teman baikku..”
”Sherin........” Jorga kembali kaget dan bahkan ini lebih kaget dari yang tadi.
”Hey Sherin, apa sih maksudmu...?” Jorgi juga sangat kaget.
Suasana pada hari itu begitu banyak kejutan. Sebenarnya Sherin menyukai Jorgi dan Jorga, tapi dia tidak bisa memilih salah satu dari mereka dan Sherin juga tidak mungkin memilih Jorgi dan Jorga untuk menjadi pacarnya. Oleh sebab itu, Sherin hanya ingin menjadi teman baik mereka untuk selamanya.
”Aku harap kalian bisa mengerti...” Sherin berbicara dengan berat hati.
”Baiklah, aku mengerti...”
”Mungkin kamu menunggu waktu yang tepat...” Jorgi menjawabnya dengan senang, meskipun sebenarnya dia sedikit kecewa. Sejenak Sherin menoleh ke arah Jorga, dia tersenyum kepada Sherin dan itu tentu saja sebagai petanda bahwa dia bersedia untuk menjadi teman baik Sherin selamanya.
”Mulai sekarang kita berjanji untuk berteman Se-La-Ma-nya, Oke..??” Sherin berkata dengan penuh semangat dan segera melupakan perasaan sedihnya.
Saat itu, Jorgi menoleh ke arah Jorga, dan dia mengulurkan tangan kirinya, meskipun itu kurang sopan karena tangan kanannya belum sembuh dari cidera waktu itu. Jorga terdiam sejenak dan kelihatan sedikit bingung, tapi kemudian dia tersenyum dan menyambut tangan Jorgi.
”Sungguh hari yang begitu indah, meskipun aku tidak menjadi pacar Jorgi atau Jorga...aku tetap merasa bahagia karena aku bisa memiliki mereka sebagai teman dan orang-orang yang berarti dalam hidupku...Terima kasih Tuhan....” Sherin tersenyum bahagia.
”Baiklah...ayo pulang...?!”
Mereka bertiga pulang bergandengan tangan.

* * * *

Wuuussss......salju turun dengan indah sebagai pembuka lembaran baru kehidupan Sherin. Sejak saat itu, Sherin, Jorgi, dan Jorga selalu menjalani hari-harinya bersama. Mereka belajar, bermain, bercanda bahkan sedih juga dilalui bersama. Luar biasa......


....The End....

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Masukkan komentar Anda di sini